LAPORAN
WAWANCARA RADIO RRI JEMBER
(Disusun guna memenuhi tugas matakuliah keredaksian)
Unmuh.JPG
Disusun Oleh :
Adit hidayat (0910221091)
JURUSAB BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia radio masih hidup saat ini meskipun teknologi komunikasi sudah berkembang pesat dengan kehadiran internet serta penggunaan netbook serta telepon cerdas yang semakin lengkap fiturnya. Bahkan siaran radio bisa diakses melalui telepon genggam biasa apalagi telepon seluler cerdas.Semula dengan kemajuan internet, radio dikatakan sudah tamat riwayatnya seperti halnya pernah diramalkan untuk surat kabar dan majalah berita.
Namun ternyata radio hidup lebih panjang justru berkat adanya teknologi internet ini karena berita lokal seperti di Indonesia dapat dinikmati di mancanegara, jauh melebihi batas territorial dan kemampuan antene radio.Selain situs berita radio itu juga bisa dipancarkan melalui teknologi di internet secara langsung, berita yang termuat dalam radio juga bisa dimuat dalam situs di internet. Bahkan rekamannya dalam bentuk MP3 atau podcast bisa diakses, diunduh dan didengarkan kapan saja oleh pengunjungnya.Oleh sebab itulah kehadiran jagat maya internet menjadi sangat penting dalam dunia pemberitaan. Dan tetap mengukuhkan radio sebagai salah satu medium komunikasi massa yang masih bisa diandalkan.
Sementara itu gelombang FM radio yang semakin marak memberikan nuansa baru dalam kehadiran radio berita. Radio berita semakin lebih baik disimak kualitas audionya melalui FM yang sangat populer di dunia.Beberapa keunggulan radio dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya bisa disebutkan sebagai berikut.1.It is Immediate.
Berita dapat dilaporkan lebih cepat melalui radio daripada surat kabar atau televisi karena teknologinya lebih simple. Meski zaman sekarang bisa ditandingi juga dengan media online namun berita radio menampilkan atmosfir nyata dari sebuah peristiwa yang bisa didengar langsung pemirsanya.2. It is accessible.Radio juga mudah di akses. Kita bisa mendengarkan radio hampir dimanapun. Kita dapat mendengar radio ketika mengendarai mobil atau ketika berada di luar rumah. Teknologi telepon cerdas atau smartphone bahkan memudahkan kita mendengarkan radio dalam segala cuaca tanpa harus membawa-bawa kotak radio. Lebih-lebih lagi kita bisa mengerjakan hal lain sambil mendengarkan radio.3. It is inclusive.
Radio bisa mencapai banyak orang termasuk masyarakat yang miskin, terpinggirkan dan mereka yang tidak membaca atau menulis. Suara penyiar atau wartawan radio akan memberikan nuansa lain disamping tentu pengetahuan bagi para pendengarnya.Namun diantara faktor penting yang membuat radio masih relevan sampai sekarang meskipun penemuannya sudah ratusan tahun lalu adalah sifat personal dari suara radio.
Sifat personal dimana penyiar seperti berbicara langsung secara perseorangan. Suara radio seperti masuk kedalam hati dan pikiran para pendengarnya. Ini antara lain karena suara radio itu merupaka imajinasi masing-masing maka seseorang yang menerima berita atau laporan dari radio seperti menyampaikan secara personal apa yang terjadi jauh di luar dirinya.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui proses keredaksian radio RRI Jember.
2. Mengetahui cara mendapatkan informasi dari awal sampai proses penyiaran.
3. Mengetahui sejarah serta visi dan misi RRI jember.
1.3 Rumusan masalah
Dari tujuan wawancara diatas maka dapaar dirumuskan rumusan masalah yang akan dibahas antara lain :
1. Bagaimana sejarah, motto, karakteristik serta visi dan misi RRI jember?
2. Acara apa saja yang disiarkan RRI jember?
3. Siapa pimpinan dari RRI jember sekarang?
4. Bagamana cara memperoleh berita dari luar daerah?
5. Bagaimana cara mencari sponsor sementara banyak saingan antar radio?
6. Berapa tarif iklan sponsor?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Radio harus diubah dari alat distribusi menjadi sistem komunikasi. Radio menjadi alat komunikasi kehidupan masyarakat yang paling besar yang dapat dipikirkan, sistem saluran yang besar. Artinya radio bertugas tak hanya mengirim/menyiarkan tetapi juga menerima. Ini mengundang implikasi bahwa radio akan membuat pendengar tak hanya mendengar tapi juga berbicara dan tidak membuat pendengar terisolasi tetapi menghubungkannya dengan proses perubahan negara dan masyarakat. (Bertolt Brecht, 1932)
Radio sebagai Sistem Komunikasi Seperti Bertolt Brecht yang menginginkan radio menjadi alat komunikasi masyarakat, maka menciptakan radio sebagai alat komunikasi juga membutuhkan kesadaran dari masyarakat sebagai pendengar bahwa radio menjadi kebutuhan mereka untuk berkomunikasi. Radio bukan benda mati yang disetel ketika masyarakat membutuhkan hiburan, radio juga dibutuhkan ketika masyarakat membutuhkan perubahan.
Hampir setiap penyelenggaraan pelatihan, kursus, lokakarya sampai workshop yang mengambil tema jurnalistik radio, pembicara akan menyelipkan cerita heroik Radio Veritas yang berjasa besar dalam menggerakkan rakyat Filipina menumbangkan rezim Ferdinand Marcos dalam people’s power. Wajar, mengingat Radio Veritas menjadi contoh yang dapat mewakili sisi jurnalistik sebuah radio. Tentu bila kita percaya bahwa ketika radio memiliki kewajiban dan hak untuk menyiarkan informasi yang dibuat dan dikelolanya sendiri ke masyarakat, radio tidak lagi berbeda dengan media pers lainnya yang juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol. Menjadi pilar keempat demokrasi. (Luwi, 2005)
Radio, selain memiliki fungsi sebagai media hiburan, dia juga merupakan alat penyebar dan kontrol politik dari penguasa maupun kuasanya (rakyat). Sebagai alat kontrol, radio memiliki fungsi untuk menyebarkan informasi yang bisa menggugat kesewenang-wenangan bahkan malah sebaliknya, radio bisa menjadi media yang efektif bagi propaganda penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Dari fungsi yang terakhir inilah lahir apa yang sekarang kita sebut sebagai jurnalistik radio. Permasalahannya, jurnalistik radio merupakan “barang baru” di belantara medium penyiaran berita, seperti media cetak dan televisi.
Untuk kasus Indonesia, dari segi teknologi dan tradisi news programming, jurnalistik radio masih bisa dibilang tertinggal, sehingga memasuki abad 21 sekarang ini belum ditemukan format jurnalistik radio yang cukup baku dan bisa dijadikan acuan bagi semua praktisi radio. Walaupun dalam sejarahnya kemunculan radio di Indonesia seperti NIROM (Nederland Indische Radio Omroep Maatschappij) di zaman Hindia Belanda atau NHK (Nippon Hoso Kyoko) di masa pendudukan Jepang, banyak memiliki fungsi sebagai alat propaganda pemerintah. Ini berarti radio juga menjadi media penyebaran informasi, walaupun hanya sepihak, yakni datang dari penguasa (top down), namun apakah penyebaran informasi yang dilakukan penguasa yang sebenarnya lebih tepat bila disebut propaganda ini memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik, Berkaca pada pengalaman RRI di jaman Orde Baru, penyebaran informasi yang dilakukan hanya datang secara sepihak dari penguasa. Prinsip perimbangan informasi tidak didapat ketika kita mendengarkan siaran berita dari RRI.
Berbeda dengan media lainnya, radio menawarkan imajinasi ke khalayaknya. Media cetak bisa menampilkan gambar lewat hasil karya juru foto dan mungkin permainan grafis lay outnya, televisi bahkan bisa menampilkan informasi yang lebih jelas dengan tampilan audio visualnya. Apa yang radio dapat tawarkan memang sangat terbatas, karena radio hanya dapat memproduksi “suara”. Namun justru karena produksi radio hanya “suara” maka radio lebih jelas bisa menawarkan imajinasi kepada khalayaknya. Khalayak disuguhi tawaran yang sangat terbatas, maka pengelola radio harus bisa membuat keterbatasan tadi menjadi sesuatu hal yang dapat memuaskan khalayak. Karena pendengar akan berusaha memvisualisasikan apa yang didengarkannya dalam benak masing-masing. (Haris, 2005)
Radio dengan basis entertainment mungkin lebih bisa memprogramkan tawaran yang imaginatif dengan konsep hiburannya. Sesuatu yang gelamor seperti musik, memainkan imajinasi pendengar radio. Disisi lain, berita pada dasarnya hanya menawarkan kebutuhan khalayak akan informasi. Tantangannya justru terletak ketika kita bisa memberikan informasi yang “imaginatif” bagi pendengar, namun juga membuat pendengar merasa memerlukan informasi tersebut. Tulisan ini mungkin akan mengulas secara teknis, bagaimana membuat merasa memerlukan informasi yang dibuat pengelola radio. ( Masduki, 2001)
· Karakter Berita Radio
Dari batas tentang berita radio seperti yang telah dijelaskan, berita radio memiliki beberapa karakter.
1. Segera dan cepat, Laporan peristiwa atau opini di radio harus sesegera mungkin disajikan kepada pendengar sebagai bagian dari keoptimalan sifat kesegeraan berita radio.
2. Aktual dan Faktual, Berita radio adalah hasil liputan peristiwa atau opini yang segar dan akurat sesuai dengan fakta yang sebelumnya tidak diketahui oleh pendengar.
3. Penting bagi masyarakat luas, Berita radio memiliki keterkaitan dengan nilai berita yang berlaku dalam kaidah jurnalistik secara umum, dalam melayani kebutuhan publik akan informasi.
4. Relevan dan berdampak luas, Khalayak secara umum mendapat manfaat dari penyiaran berita radio sekaligus juga memancing respon dari khalayak.
Secara umum penerapan kaidah jurnalisme di radio membutuhkan ketaatan terhadap kemampuan radio dan pemahaman akan karakter radio itu sendiri sebagai sebuah media. Radio yang memiliki keterbatasan karena hanya dapat memproduksi suara, tetap dituntut menerapkan kaidah jurnalisme dalam memproduksi sebuah berita.
Beberapa persyaratan dalam berita radio antara lain :
1. Lokal emosional, Berita menjadi alat komunikasi antar individu pendengar dengan masyarakat yang menjadi khalayak jangkauan siaran sebuah radio. Efektifitas berita radio terkadang juga tergantung dengan kedekatan emosional dengan pendengarnya.
2. Personal, Komunikasi berita radio berlangsung seperti seseorang yang sedang bercerita atau berbicara dengan temannya. Penyiar radio berita dituntut menguasai bahasa tutur dalam bercerita yang tidak terkesan membacakan sesuatu.
3. Selintas, Dengan mobilitas khalayaknya yang tinggi, berita radio cenderung ditangkap hanya selintas. Diperlukan pengulangan dan lead berita yang menarik agar pendengar mengetahui berita yang disiarkan.
4. Fokus dan antidetil, Dengan hanya memiliki sifat auditif, khalayak radio memiliki keterbatasan kemampuan untuk mengingat rincian berita. Ringkasan dan terfokus adalah syarat mutlak berita radio yang layak siar.
5. Imajinatif, Kemampuan penyiar berita radio juga harus dapat mengembangkan imajinasi pendengar agar mereka memahami dan merasakan apa yang di informasikan dalam berita radio. Hal ini dilakukan untuk menutupi keterbatasan radio yang hanya memproduksi suara. (Sumadiria, AS. Haris, 2008)
· Bentuk Berita Radio
Beberapa bentuk berita yang umum disiarkan antara lain:
1. Berita tulis (writing news/ ad libs/sport news), yakni berita pendek yang bersumber pada media lain atau berita yang ditulis ulang. Termasuk liputan reporter an teksnya diolah kembali.
2. Berita bersisipan (news with insert), yaitu berita yang dilengkapi dengan sisipan nara sumber.
3. News features, berita atau laporan jurnalistik panjang yang lebih bersifat human inters.
4. Live reports, berita langsung dari reporter di lapangan, dengan menggunakan media telepon.
5. Buletin berita yaitu gabungan beberapa berita dalam satu blok waktu.
6. Berita interaktif, atau nara sumber, biasa dilakukan dengan wawancara melalui telepon
Dari kekuatan materi berita, berita radio terbagi menjadi tiga: hard news, atau berita aktual yang baru saja terjadi di lapangan; soft news atau berita lanjutan yang lebih berupa laporan tanpa terikat waktu dan menekankan aspek human inters, pelaku serta tempat-tempat yang mempengaruhi orang banyak; dan ketiga adalah in-depth news atau berita mendalam, biasa disajikan dalam format features. (Ermanto, 2005)
· Struktur Berita Radio
Sebagaimana berita pada media lainnya, berita radio juga terutama menggunakan kaidah Piramida Terbalik. Struktur seperti ini bertujuan agar sebuah berita menarik perhatian sejak awal penyiarannya, bisa membuat informasi yang rangka dan penting tanpa mengesampingkan aspek 5W + 1H.
Dalam struktur piramida terbalik ini bangunan paling atas ditepati oleh lead berita. Lead berita adalah bagian klimaks atau inti berita. Unsur paling penting yang ingin ditekankan pada pendengar ada pada alinea pertama sebuah berita. Dengan demikian sudah sedari awal pendengar akan tahu apa isi berita yang sedang disiarkan.
Berikutnya adalah atmosfer berita atau suasana dari berita yang disiarkan. Pada bagian ini setting sebuah berita dimunculkan. Pada prinsipnya, bagian ini menjabarkan apa yang ada dalam lead berita. Setting ini merupakan penjelasan unsur lead sebagai kelengkapan berita.
Setelah setting berita atau penggambaran atmosfernya, struktur berikutnya adalah background berita. Unsur background biasanya berupa latar belakang dari sebuah berita. Sebuah jawaban atas pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Terakhir adalah fakta pendukung sebuah berita. Pada bagian ini diuraikan fakta-fakta yang melengkapi sebuah berita. Pada ini biasanya merupakan bagian yang detail yang lengkap, bagaimana ini sebenarnya tidak terlalu penting. (Syamsul M.Romli, Asep. (2003))
· Sumber-sumber Berita Radio
Secara umum sumber berita radio dapat dibagi menjadi dua:
· Sumber primer/langsung, didapatkan dengan menerjunkan langsung reporter untuk melakukan liputan lapangan. Sumber primer ini juga didapatkan dari studio atau redaksi dengan melakukan wawancara langsung melalui telpon atau nara sumber datang langsung ke studio.
· Sumber sekunder/tidak langsung, didapatkan antara lain dari media cetak. Elektronik, siaran pers, jaringan kantor berita, hingga info dari pendengar.
Mengelola sumber berita menjadi bagian penting dari proses pembuatan sebuah program berita. Data nara sumber seperti alamat, nomor telpon dan berbagai kelengkapan data pustaka menjadi sangat penting dalam pengelolaan sumber berita. Untuk radio, daftar nomor telpon nara sumber menjadi kelengkapan yang ada pada redaksi dan studio.
· Kelayakan atau Nilai Berita
Reporter harus bisa memahami apa yang diinginkan pendengar. Untuk bisa memahami pendengar, seorang reporter dalam melakukan liputan khusus harus bisa menempatkan dirinya sebagai pendengar. Dengan demikian ia akan tahu apa yang sedang diinginkan diketahui oleh pendengar radio tersebut.
Dalam jurnalistik sebenarnya ada beberapa kaidah umum, namun dapat terasa sangat relatif ketika dioperasionalkan. Kaidah-kaidah jurnalistik tentang kelayakan sebuah berita antara lain:
1. Aktualitas, Untuk radio, aktualitas sebuah berita menjadi nilai tersendiri karena radio dianggap sebagai media yang paling unggul dalam kecepatan waktu penayangan.
2. Kedekatan atau proximity, Kedekatan secara emosi dan fisik akan membuat berita menarik perhatian pendengar. Kedekatan khalayak pendengar dengan sebuah kejadian yang menjadi berita selalu dianggap berarti. Nilainya terutama pada kepedulian, kepentingan dan keakraban.
3. Tokoh Publik/prominence, Man makes news, ungkapan ini dapat menggambarkan bahwa segala peristiwa seputar tokoh-tokoh publik selalu menarik untuk didengar.
4. Konflik, Konflik, persengketaan individu atau kelompok, perang, bentrokan, kerusuhan dan peristiwa-peristiwa yang dapat mengambarkan terjadinya sebuah konflik selalu menjadi berita yang menarik perhatian.
5. Kriminalitas, Kondisi keamanan yang semakin rawan membuat berita kriminal semakin dibutuhkan khalayak, setidaknya untuk sekedar mengetahui daerah-daerah atau tempat-tempat yang rawan tindak kejahatan.
6. Kemanusiaan atau human interest, Berita yang diangkat dari peristiwa yang menyentuh rasa kemanusiaan dan menggugah empati(membangun perasaan simpatik pendengar)
7. Sensational, Sesuatu yang luar biasa dan jauh dari ukuran normal, biasanya akan selalu menarik perhatian pendengar.
8. Besaran Kasus/Magnitude, Jumlah korban kecelakaan, bencana alam, perang, kerugian negara arena korupsi selalu menjadi perhatian pendengar. (Siregar, Ashadi. 1998)
· Wawancara
Wawancara dalam jurnalistik berarti proses bertanya yang dilakukan reporter untuk mendapatkan jawaban dari nara sumber. Reporter radio dalam melakukan wawancara sedang mewakili khalayak pendengar. Wawancara merupakan bangunan keseluruhan dari kegiatan peliputan. Setiap proses pembuatan berita bahkan dapat dikatakan hampir selalu membutuhkan wawancara. Bahkan wawancara menjadi bentuk berita tersendiri yang biasa disebut News interview.
Secara teknis operasional, tujuan wawancara meliputi dua hal pokok yakni; apa yang ingin diketahui pendengar dan apa yang harus diketahui pendengar. Penting bagi reporter dalam melakukan wawancara untuk menempatkan dirinya seolah-olah sebagai pendengar radio. Kebutuhan dari wawancara dalam berita radio termasuk sesuatu yang sangat mutlak. Karena dari wawancara, berita radio dapat memberikan sisipan yang memang berfungsi selain memperjelas isi berita juga memberikan efek auditif.
Terdapat berbagai bentuk wawancara radio, namun dalam tulisan ini akan disinggung secara umum jenis wawancara berita. Wawancara berita adalah wawancara yang dilakukan untuk menggali berbagai hal seputar peristiwa aktual. Bagian terpenting dari wawancara berita adalah bentuk pertanyaan yang harus pendek, jelas dan fokus. Untuk dapat menguasai pelaksanaan wawancara seorang reporter setidaknya harus melakukan riset atau mengetahui latar belakang masalah yang akan dicari jawabannya melalui wawancara. Pengetahuan tentang background masalah menjadi penting karena penguasaan materi menjadi inti dalam membuat berita berdasarkan hasil wawancara. Mengetahui background berarti mengetahui tujuan wawancara. (Setiati, Eni, 2005)
· Vox Pops
Vox Pops merupakan istilah lain dari media polling. Vox Pops di radio dilakukan dengan banyak cara, selain menggunakan teknologi seperti SMS, Internet bisa juga dilaksanakan langsung di lapangan.
Cara melakukan wawancara vox pops oleh reporter di lapangan
· Reporter radio dengan menggunakan mikrofon dan peralatan rekamnya berdiri di tempat dimana masyarakat biasa berkumpul atau lalu lalang (pusat perbelanjaan, stasiun, terminal dll). Reporter kemudian mencegah masyarakat yang lewat sambil menanyakan topik yang sedang dibahas.
· Tata cara yang umum dalam melakukan vox pops di lapangan adalah: “… saya reporter radio x ingin mengetahui pendapat anda tentang …?”
Pertanyaan yang diajukan ke semua orang harus sama persis. Wawancara dilakukan secara beruntung dalam satu kesempatan. Biasanya sudah direncanakan berapa nara sumber yang akan diwawancarai.
· Etika Jurnalistik Radio
Membuat dan menyajikan berita adalah kegiatan jurnalistik yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat. Profesionalisme kerja reporter dan stasiun radio itu sendiri dengan demikian harus selalu berpegangan pada etika d an kode etik yang secara profesional bisa terlayani dengan baik, tanpa mengabaikan profesionalisme kerja itu sendiri.
Etika jurnalistik radio secara umum antara lain:
1. Menggali berita dengan cara etis. Cara etis harus ditempuh dalam memperoleh berita. Hal-hal seperti kesepakatan antara reporter dengan nara sumber, bagian mana yang layak dimuat dan bagian mana yang dihilangkan, sebaiknya diketahui oleh nara sumber.
2. Tidak menerima sogokan, wartawan bodrek atau wartawan amplop merupakan penyakit bagi independence yang seharusnya dijunjung tinggi oleh jurnalis. Obyektivitas berita dapat terjaga dengan tidak menerima sogokan atau pemberian dalam bentuk apapun.
3. Konsisten pada prinsip keberimbangan dan obyektivitas, dalam jurnalisme pernyataan sepihak atau pernyataan secara sepotong dapat dikenai delik pidana. Apalagi jika dimaksudkan untuk menguntungkan salah satu pihak. (Purnama kusumaningrat, 2006)
BAB III
PEMBAHASAN
Dari hasil wawancara yang kita peroleh di lembaga penyiaran publik radio republik indonesia (RRI) telah didapatkan data tentang seputar penyiaran dan proses keredaksian di RRI dimulai dari bagaimana cara mendapatkan berita, sponsor, karakteristik, visi dan misi, motto, kiat kiat RRI, biaya sponsor, jadwal siar tiap hari, acara vaforit, acara tematik, hingga perbedaan dari setiap pro dari 1 sampai 3 RRI,
Pro 1 RRI yang dikembangkan sebagai pusat budaya lokal yang menyajikan acara tentang kejadian yang ada disekitar jember, lebih mementingkan informasi atau berita yang mempunyai hubungan emosional dengan masyarakat jember. Pro 2 RRI Jember yang dikembangkan sebagai pusat kreatifitas akan muda terutama sekolah dan kampus, Pro 2 RRI jember adalah radio hiburan sekaligus sebagai radio pendidikan yang sering mengadakan acara tentang pendidikan, Pro 2 RRI Jember ditujukan kepada para pelajar yang ada di jember.
Perjalanan RRI jember mengalami pasang surut mulai era reformasi karena banyak problema intern maupun ekstern yang bermunculan. Tapi karena para pendiri dan pengurus RRI Jember terus berusaha akhirnya sampai sekarang RRI Jember masih tetap eksis dan dibutuhkan oleh para khalayak tentang informasi dab beritanya. RRI Jember mempunyai visi dan misi antara lain :
Ø Visi dan Misi
Kamis, 16 Juni 2011
WAWANCARA RADIO KEREDAKSIAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kategori Judul
Blogumulus by Roy Tanck and Amanda
Fazani
Update Status FB
Mengenai Saya
- adit hidayat
- Imagination is more important than knowledge(Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan) kakekku Albert Einstein :)